Mekkah menjadi salah satu kota cita-cita para umat Muslim untuk dikunjungi. Banyak sistem untuk menuju ke sana, salah satunya dengan bersepeda seperti yang dilakoni pasangan suami istri asal Cimahi, Jawa Barat, Muhamad Rafli Purnama Nur (25) dan Zahra Alzena (25).

Keinginan untuk pergi ke Tanah Suci mengaplikasikan sepeda tercetus semenjak sebelum pandemi Covid-19. Dikala itu, Rafli sedang berkelana ke India seorang diri sebagai komponen dari perjalanan sebagai backpacker di akhir 2019. Dikala itu, dia memandang banyak orang yang touring lintas negara mengaplikasikan sepeda.

Baru itu kemudian disampaikan terhadap istrinya dan mengajak bersama-sama https://avidadoce.com/ menunaikan umrah dengan perjalanan tidak awam. Di saat berbarengan, dia juga meriset rute perjalanan menuju Mekkah yang akan dilewati via internet serta bertanya pada orang yang telah berpengalaman.

\\\“(Istri) langsung menyetujui sebab tahu mimpi ini tuh mimpi saya dari sebelum kenal dia,\\\“ tutur Rafli.

Sebelum melaksanakan perjalanannya dengan gowes sepeda, dia dan istri juga mempersiapkan semua aspek, terutama kekuatan fisik dan mental. \\\“Lahiriah yang seharusnya dilatih sebelum memulai perjalanan. Mental yang emang seharusnya telah awam dan melaksanakan perjalanan jauh,\\\“ ucapnya. \\\“Membiasakan gowes tiap-tiap hari minimal 10 km,\\\“ tambahnya saat ditanya latihan fisik apa yang awam dijalankan.

Memulai Perjalanan Pertama

Kecuali fisik dan mental, mereka juga menyiapkan finansial sebab memahami bahwa dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Rafli bersama istrinya mengaku telah menabung semenjak lama untuk mempersiapkan perjalanan ini. Padahal nominal yang dikumpulkannya tidak diceritakan, Rafli mengatakan bahwa tabungan yang dipersiapkan seharusnya sebanyak-banyaknya.

\\\“Dana yang tidak sedikit membuat kita seharusnya nabung terutama dahulu,\\\“ ucapnya. \\\“Udah ada niat untuk ada perjalanan ini, kita berdua langsung nabung. Sedikit demi sedikit,\\\“ tambahnya.

Sesudah dirasa cukup, pasangan suami istri itu walhasil memulai perjalanan hari pertama dari rumahnya di Cimahi pada Sabtu, 24 Februari 2024. Dia memperkirakan akan membutuhkan waktu sembilan bulan untuk menempuh Mekkah.

\\\“Karena ini akan melintasi 15 negara dengan jarak 15.000 km dan akan memakan waktu sekitar sembilan bulan dan mungkin akan tiba bulan November 2024,\\\“ kata Rafli seraya menyebut tidak akan via India. \\\“Kini telah tiba di Kalimantan Utara, lebih tepatnya Kota Tarakan,\\\“ ucapnya. Pasangan itu menaiki sepeda gunung dengan sebagian ransel di depan dan belakang sepedanya.

Tidak Perlu Cuti

Rafli dan Zahra tidak menargetkan jarak yang seharusnya dicapai tiap-tiap hari. Mereka hanya akan terus mengayuh sepeda dari pagi sampai sore hari. Dikala jam-jam salat, mereka akan beristirahat. \\\“Kita gowes sesampainya tergantung situasi cuaca dan fisik kita sendiri,\\\“ ujarnya.

Mereka bisa leluasa sebab pekerjaan yang digeluti tidak terikat dengan pihak ketiga. Sebagai kreator konten, mereka tidak membutuhkan izin cuti kerja. Mereka justru mendapat penghasilan dari konten-konten perjalanannya. Ya, perjalanan Rafli dan Zahra senantiasa dibagikan ke media sosial Instagram @purnamarafli_.

\\\“Perjalanan ini pun sembari kita bikin konten dan mencari penghasilan sembari melaksanakan perjalanan,\\\“ terang Rafli.

Padahal diakui tidak gampang, keluarga mereka mensupport keputusan Rafli beserta istrinya untuk pergi ke Mekkah mengaplikasikan sepeda, tanpa ada rombongan lain yang ikut serta. \\\“Kita hanya berdua saja, istri dan suami tanpa tim lain pun,\\\“ katanya.

Karena berdua, suka kesedihan di perjalanan yang dibagi berdua, termasuk saling menguatkan untuk tetap berpuasa di bulan Ramadan. Pasalnya, kekuatan yang dikeluarkan akan terkuras.

Tantangan yang Dihadapi

Rafli juga menambahkan bahwa dirinya semenjak awal meniatkan untuk tetap berpuasa sebisa mungkin sebab bulan Ramadan hanya sekali dalam setahun.

\\\“Padahal di bulan puasa, sebisa mungkin kita tetap puasa, sebab ini perjalanan panjang dan puasa Ramadhon hanya sebulan dalam setahun. Jadi, di bulan ini kita lebih prioritaskan puasanya. Karena kan perjalanan ini juga perjalanan spiritual atau ibadah, jadi ya ibadah wajibnya pun seharusnya tetap kita jalani,\\\“ tuturnya.

Alhamdulillahnya di puasa hari ke-16 ini saya sendiri belum ada bolong puasa alias puasa tiap-tiap hari tetap dijalani sedangkan dengan bersepeda. Tapi jaraknya lebih pendek,\\\“ ungkapnya.

Tantangan lainnya adalah berkaitan dengan cuaca yang tidak menentu. Perubahan cuaca yang signifikan membuat tubuh mereka menjadi lemah. Tapi, itu tidak menyurutkan motivasi mereka. Mereka tetap melanjutkan perjalanan sedangkan seharusnya berhenti saat situasi tubuh telah mulai merasa tidak nikmat. \\\“Tergantung sakitnya, jikalau masih flu awam istirahat aja sebagian hari sampai badan kuat untuk bersepeda.\\\“

Discussion

Leave a reply

Deine E-Mail-Adresse wird nicht veröffentlicht. Erforderliche Felder sind mit * markiert